Meracau
September 30th, 2008 by v3ndy“Tenang aja Ven. Kamu pasti bisa kok.”
Kamu? Hmmm. Sebentar. Kosa kata ini rasanya pernah digunakan dalam dua kondisi:
1. Masa penjajakan alias PDKT.
2. Berbicara dengan “atasan”
Bagi saya yang lebih sering berbicara menggunakan gaya betawi (dalam artian: elu, gue, dkk), kata-kata formal semacam “kamu” itu mirip virus komputer. Merusak sebuah program yang disebut dengan kebiasaan, atau justru, program kebiasaan itu sendiri adalah “penyakit” yang harus diobati? Merinding rasanya. Kalau berdasarkan acara snapshot milik MetroTV beberapa saat yang lalu, bahasa Indonesia sendiri kurang populer. Mungkin benar adanya. Siapa yang bisa membiasakan diri menggunakan kata “mengunduh” sebagai pengganti kata “download”? Atau “tetikus” untuk “mouse”?
Ada sebuah memori dari jaman SMP 1 tentang salah kaprah bule yang baru belajar bahasa Indonesia, menyamakan antara “nasi goreng” dengan “beras goreng”. Wajar saja kalau lidah mereka terpeleset. Sama-sama “fried rice” toh? Kemudian, jaman berkembang dengan munculnya humor mengenai Tan Ah Beng dengan silat Sing-lish, yang notabene, mirip gado-gado. Ibaratnya menerjemahkan “I believe I can fly” menjadi “saya percaya saya kaleng lalat”. Bahasa Indonesia ternyata sederhana sekaligus rumit (dan membuat merinding).
Hal-hal semacam ini yang kemudian, entah bagaimana caranya, membimbing saya menuju potongan-potongan film Hannibal. Kesan elegan dan hormat terhadap Hannibal terlahir kembali. Meskipun kanibal, Hannibal punya tata krama sendiri: ia hanya memangsa pihak yang dianggap musuhnya. Kapan ya Indonesia punya tokoh antagonis sebersih Hannibal? Ngomong-ngomong soal Hannibal, ada yang bisa nyengir saat adegan memotong dan menumis otak?
Something’s coming. Enjoy.
Memori bukanlah kawanan ternak yang bisa digiring oleh penggembala. Sama halnya seperti saat itu. Wanita itu. Cantik memang. Merokok (biar saya tegaskan saya sama sekali tidak main picing mata terhadap eksistensi wanita yang merokok). Duduk sendirian. Pizza hut. Malam. Wajar, saya pikir. Metropolitan punya segala hal bung. Jadi jangan heran kalau anda sempat melihat gula yang tidak dikerubungi oleh semut. Tapi, ada yang jauh lebih wajar dari itu. Matanya sembab. Nafasnya lirih. Mungkin ia sedang mengalami masalah? Bertengkar dengan kekasih? Pekerjaannya mengalami kendala? Pertanyaan negatif mendasar ala media dan gosip tak sehat adalah boroknya pikiran, meski masuk di akal.
Kemudian wanita itu pergi. Syukurlah. Mungkin ia menyadari ada tugas yang harus ia selesaikan atau aktifitas lain malam itu. Mungkin juga ia menyadari ada yang sedang memperhatikannya (karena jika ia sadar, orang yang paling pertama gelagapan adalah saya). Tapi, rasanya sedikit sedih. Perasaan senasib itu kembali sepi.
“I gotta be myself because there’s nobody else for me…”
taken from August Rush
“Sometimes, it takes another helping hand to show you the way…”
taken from August Rush
